Rabu, 24 Desember 2014

Aku mulai lagi

Pernah ku berfikir
Bahwa aku tak mampu sendiri
Nyatanya kini semua terlewati
Saat ku kira aku tak berani
Ternyata nyaliku lebih tinggi
Sore tadi menjadi  saksi
Setelah sekian lama aku menjauh yang berbau kamu
Mencoba menata hatiku 'tanpa' kamu
Nyatanya aku kembali menyapamu
Setelah pengabaianmu dulu
Atas salahku yang membuatmu jauh
Maka beri aku waktu
Hampir di setiap akhir tahun kita saling tertawakan masa lalu
Dimana lelucon begitu kental dalam balutan aksa aku dan kamu
Sore tadi aku menyapamu
Ku fikir sikapmu masih acuh
Nyatanya hangat itu yang menyapaku
Aku sungguh rindu
Ingin lebih lama lagi berbincang denganmu
Namun ragu menahanku
Katanya tak perlu lagi tanyakan dirimu
Yang penting kau 'hadir' lagi dalam hidupku
Kamu.
Yang di akhir tahun lalu kamu tertawa akan mimpi bodohku
Dan pesanmu 'cari yang bodoh seperti aku'
Dan aku rasa tak ada orang yang ingin bodoh denganku
Ku fikir hanya kamu
Sosok yang mau berlantai kotor tiduran dan menegadah ke langit biru
Kulukis yang ku mau dgn tanganku
Tawamu menyepelekanku
Tp disitu bahagiaku
Saat kamu bilang aku terlampau gila dengan mimpiku
Tp akhirnya kamu lagi yg mengingatkan ku agar tak jatuh
Tp apalah aku.
Yang terlampau sering tak menghiraukanmu
Sampai menjauh kembali aku dan kamu.
Di penghujung tahun ini.
Maukah kamu kembali?
Menertawakan kebodohanku akan mimpi
Lalu menatapku dengan penuh kasihmu
Sampai kini.
Entah mengapa kamulah pengisi ruang hatiku
Dimana yang ku cari bertumpu pada dirimu
Dimana tabung kebutuhanku
Penuh karena hadirmu.
Kembalilah di akhir penghujung tahun ini. Seperti tahun-tahun yang dulu

Senin, 22 Desember 2014

Jarak

Kadang sepi mencekam
dimana takutku tuk berjalan sendirian
Tp ku percaya Tuhan
JanjiNya pasti nyata
Rasanya aku ingin teriak
Berunjar lelahku bosan diam
Tapi nyatanya tak ada lagi pegangan
Hanya diri sendiri yang menjadi tumpuan
Bukan. Bukan. Aku masih punya Tuhan
Sebagai panduan kehidupan
AjaranNya pasti yang paling benar untuk dijalankan
Tp aku tak ingin berjalan sendirian
Aku butuh teman seperjuangan.

Rabu, 10 Desember 2014

KetentuanNya

Pada ketentuanNya yang sedang ku raba
Sepertinya sendiri lebh baik hadirnya
Pada ketentuanNya yang sedang ku terima
Ku rasa kehadiranNya begitu nyata
Dengan sendiriku
Aku merasa lebh di dekap olehNya
Di genggam dalam tangan hangatNya
Betapa mataku terbuka
Bahwa aku begitu dicintai olehNya
Andai saja sejak awal aku mengetahui segalanya
Bahwa wajar saja ayah tak suka
Pabila ada pria lain bermain kerumah bertemu anak gadisnya
Nyatanya aku kini mengerti
Mengapa pada akhirnya ayah meminta tuk anaknya sendiri
"Mba, kalau mba jadi org tua. Dan anak perempuannya yg dirawatnya, dijamah sama pria bukan mahramnya. Apa mba akan marah?"
Iya mba marah pak. Kenapa emgnya?
"Itu yg papa rasa. Setiap ada pria yang datang kerumah. Mencoba mengambil perhatian anak papa. Tanpa label halal untuk kamu dan dia. Tanpa berani ia meminta kamu untuk dipinang olehnya"
Maafkan aku yang lambat bersyukur
Atas karuniaMu yang menitipkanku pada keluarga kecil ini
AtasMu dan ijinMu
Perkenankanlah aku tuk sendiri
Sampai waktu itu tiba
Dimana jodoh yang telah Kau tetapkan sejak ruhku ditiupkan datang menyapa
Dan Kau halalkan aku melalui jabat tangan ayahku dan dirinya

Opie maita

Syukurku punya dia
Teman sejak jaman sekolah
Dulu tak sebegitu dekat
Kami sempat jauh
Tp akhirnya kembali dekat
Sahabat tak pernah hilang
Bagaimanapun jeleknya
Pasti aku tetap dilindungi olehnya
Pdhal hatiku yang terbaret luka
Tp ia bantu melindunginya
Sering aku yg menyakiti hatiku sendiri
Tp ia mencaci maki pria yang datang dan pergi
Aku seperti dilindungi
Kdg rutinitas menjauhkan kami
Tpi nyatanya sahabat tak hilang dimakan jaman
Seringku mengeluh akan duka hati
Lagi-lagi ia yang merasa disakiti
Sahabat memang selalu mengerti
Bahkan seperti ibu sendiri
Yang marah pabila anaknya disakiti
Syukurku atas hadirmu yang hingga kini menemani
Walau jarak terlampau
Walau komunikasi tak sering
Tp perasaan melindungi tak pernah lepas dari hati
Semoga temu kita terus ada
Sampai berkumpul saat sudah berbadan dua
Sambil mengandeng ayah calonbayi-bayi kita

Minggu, 07 Desember 2014

Yah.

Mba lagi apa?.
Oh ini. Baca buku yg kmrin blm abis-abis pa
Papa cuma mau bilang" papa ga ngelarang kamu pacaran atau deket sama cowo. Tp sebetulnya papa mau kamu puas-puasin masa muda kamu, sebelum kamu terikat dengan pernikahan dan suami sama anak-anakmu. Papa cuma mau kamu nikmatin sendiri kamu. Bebasnya kamu. Pergi kemanapun yang kamu mau. Bersikap gimanapun kamu mau. Bergerak sesuai dengan apa yang kamu mau"
...........
"Papa gamau kamu kenapa-kenapa. Papa belm ketemu cowo yang bener-bener bisa jaga anak papa. Bisa ngertiin anak papa, kamu itu susah mba. Cuma yang betul-betul tulus yg akan bisa dampingin kamu. Yg betul betul mau mengerti dan mengalah sama kamu. Dan sayang kamu. Papa ga butuh apa-apa dari menantu papa. Papa cuma mau dia ngertiin mba dan jaga mba nantinya. Itu lebih dari cukup buat papa"
  ..........

Rabu, 03 Desember 2014

Ayah.

Kala kemarin subuh aku dan ayah pergi bersama
Dengan manja aku duduk disamping kemudinya
Kata beliau teduh bercerita
" kamu tau, dulu yg suka papa ada selain mama. Tp cuma mama yang menangin hati papa. Mama itu dulu deket sama papa karena ibadahnya,dan papa sama mama ya karena papa ngerasa cuma mama yg bisa ngertiin papa. Mama itu lebih memilih ga makan dr pada papa yg ga makan, jd papa rasa ini jodoh papa. Makanya papa berdoa supaya dijodohkan, alhamdulilah menikah."
Aku hanya mampu diam dan berdoa. Berharap mampu menjadi seperti mama. Wanita yang hebat bagi suami dan anak-anaknya. Pada saat ini,hanya ayah lelaki terhebat, sampai masanya kelak. Aku memiliki pria kedua untuk ku mencari pahala darinya.
Pesan ayah begitu banyak pada peri kecilnya
Beliau kembali berkata" jangan pernah lupa meminta. Untuk pendampingmu seperti apa. Minta dijodohkan dunia dan akhirat jangan lupa. Papa gaminta lebih. Cari yang seagama dan mengerti kamu." Lagi-lagi tentang ini. Tentang suami dan permintaan hati.
Aku tak pernah mampu berucap. Kala pesannya terus mengalir.
Lagi-lagi beliau berkata "kalau kamu suka sama org. Lihat agamanya. Jangan yang hanya manis omongannya saja. Cari yang mengerti agama. Biar kalau dia pergi dan mau belok dari jalannya. Iya pasti ingat dengan anak istrinya. Bukan karena takut dgn kamu istrinya. Tp takut sama ajaran agamanya. Takut mengecewakan penciptanya. Papa ga pernah lupa doain mba anggit,de mayang sama de ajeng. Smga diberi suami terbaik nantinya. Biar papa tenang melepas kamu pd org baru,karena anak-anak papa punya suami yang bisa bimbing kamu kaya papa bimbing kamu dan ade ade kamu"

Selasa, 02 Desember 2014

Selamat tanggal 3

Bebas kamu baca atau tidak.
Aku hanya berniat menuangkannya.
Selamat tanggal 3.
Setelah beberapa tahun ini aku mengucapkannya tanpa jeda.
Tp pernah sekali.
Aku melewatkannya.
Membiarkan tanggal itu berdiam tanpa makna.
Tp kali ini biarkan aku kembali melaksanakan ritualnya
Dimana setiap tahunnya.
Pd setiap tanggal 2. Aku memperingatinya
Entah mengapa aku suka.
Memperingati satu hari sebelum hari sebenarnya.
Selamat bertambah usia.
Untuk sahabat yang baru kurasakan hadir nyatanya.
Maaf setelah sekian lama tak bermakna.
Dan kini baru menyadarinya.
Bahwa kamu yg selalu ada
Maka ijinkan aku perbaiki hadirnya.
Setelah ini. Semoga pencipta mempererat kita
Sbgai teman sampai tua.
Dimana aku dgn pendampingku
Dan kamu pendampingmu
Mari kita buat tawa bersama
Dimana tanpa sadar kita saling mengistimewakan antara yg satu dgn yg lainnya
Kita sllu ingin yg lain berbahagia
Terimakasih sahabat nyata
Smga bahagia juga sllu berlimpah padamu