Rabu, 27 Mei 2015

Ku harap

Tuhan.
Aku mencintainya.
Entah mengapa.
Yakinku ada padanya.
Tak lagi tanya.
Tp pernyataan yang ku tunjukkan padanya.
Tak ada lagi resah.
Karena ia tlah tunjukkan yang ku ragukan.
Ia yakinkan segala kegundahan.
Ia terangkan segala keabu-abuan.
Aku sempat takut berpegangan.
Tp tangannya begitu kokoh menenangkan.
Aku sempat takut tuk mengenggamnya berjalan.
Tp ia tetap membopongku tuk terus melangkah kedepan.
Kini tlah duabulan
Aku mulai mengenggam tangannya tenang
Aku mulai mendekap bahunya teduh
Aku mulai percaya
Bahwa kini yang Kau titipkan tlah tiba
Aku mulai percaya
Bahwa tak semua pria sama
Aku mulai percaya
Bahwa kini aku tlah punya dia
Aku mulai percaya
Bahwa hatinya hanya untukku saja
Ku harap ini semua tak lagi maya
Tak lagi gombalan manis seorang pria untuk wanitanya
Ku harap semua ini Kau perkokoh dalam ikatan nyata
Dimana kelak halal berlingkar dalam hubunganku dengannya
Ku harap, Kau percepat segalanya
Ku harap, Kau awetkan segala cintanya untukku
Ku harap, keluargaku dan keluarganya dapat saling menyatu
Saling mengisi dalam keluarga yang utuh

Untukmu

Untukmu
Satu-satunya lelaki yang bukan keluargaku
Tp berkorban melebihi dr yang aku mau
Untukmu
Satu-satunya lelaki yang menempati hatiku
Dan mengisi segala celah kurangnya aku
Untukmu
Yang kini ku cinta hingga waktu yang tak pernah ku duga
Untukmu
aku begitu mencintamu dengan segala kelembutan yang kau cipta
Sungguh.
Tak ada kurang yang ku rasa
Malah kau berikanku lebih dari apa yang ku kira
Sungguh.
Aku mendapatkan apa yang ku mau darimu
Sosok yang begitu ku rindu
Penggenap atas segala ganjilnya aku
Sosok yang begitu ku tunggu
Atas kamu yang dari dulu ku cari dan baru saja kita bertemu
Dua bulan yang lalu
Kita coba menyatu
Dan ku rasa kita lebih dari kuantitas yang ada
Dimana angka dua bukanlah arti yang sebenarnya
Karena sikapmu begitu dekat melebihi kata dua
Bahkan tak ada lagi jarak atas kita

Minggu, 24 Mei 2015

Ingin bersamamu

Aku selalu ingin bersamamu
Mendaki tempat yang tak pernah ku tau
Menyelusuri bebatuan yang tak pernah ku injak
Aku ingin selalu bersamamu
Tertawa riang hingga berada diketinggian
Menghidup edelweis dengan penuh kebanggaan
Bersamamu yang selalu ku inginkan
Menerima hangat senja bersama pelukan
Serta menelisir dingin dalam kecupan
Aku ingin bersamamu sayang
Merangkai hari dengan penuh riang
Berada ditempat yang selalu ku impikan.
Kelak. Aku hanya ingin denganmu sayang.
Ku harap Pencipta mengabulkan
Segala harap yang selalu kita pintakan
Dimana aku ingin kita selalu berdampingan
Dan kaupun ingin hanya ada aku yang selalu memberimu kehidupan.
Aku hanya ingin denganmu sayang.
Menikmati segala kurangnya keadaan
Serta belajar tuk saling melengkapkan
Walau pada kenyataan
Akulah si pemilik kurang
Dan kaulah pengenap atas ganjil yg ku kurangkan.

Kelak

Kelak.
Pada saat yang memang tlah tepat
Aku hanya ingin kau rengkuh dan kau dekap
Menatap mentari menyongsong hari
Menunduk teduh karena senja tlah hadir tuk mengundurkan diri
Kelak.
Pada saat yang tlah kita tentukan
Ku harap Pencipta mengizinkan
Tuk kita sllu bergandengan tangan
Menggapai akhirat dengan keindahan
Kelak.
Saat kita tlah beriringan
Ijinkan hanya aku yang menjadi pemenang
Yang selalu merengkuhmu kala dinginnya malam
Memberikan hangat saat tubuhmu gemetaran
Kelak.
Ijinkan aku yang selalu mengurusmu sayang
Menikmati peran sebagai perempuan
Dengan penuh sabar dan kelembutan
Mendekapmu dan memberikan perawatan
Kelak.
Ijinkan aku haturkan
Segala sikap dan perlakuan penuh keistimewan
Yang hanya kan ku persembahkan
Padamu sang calon imam

Rabu, 20 Mei 2015

Karena aku

Karena aku punya celah kurang
Karena kamu ku anggap bukan org  lain lagi sayang
Tp nyatanya sikapku hanya mengecewakan
Membuatmu risih tak karuan
Aku tak lg ingin membahas yg mengacu pd pertengkaran
Hanya ingin diam
Lalu katamu aku males pada hal yang sepele tak berkewajaran
Lalu aku harus bersikap apa sayang?
Saatku pilih diam
Dan kau malah yg memperpanjang?
Lalu kau bilang aku mengecewakan?

Minggu, 10 Mei 2015

Tanya?

Sekali dua kali
Ah sudah biasa
Tapi rasanya aku mulai tak dipercaya
Bahwa aku juga mampu arungi waktu denganmu berdua
Mereka bertanya
Berulang tanpa kenal selang
Lagi-lagi diungkapkan
Masihkah aku denganmu sayang?
Kata mereka yang melihat kulit luar
LDR tak segampang itu katanya sayang
Tp menurutku tak sesulit yang mereka bayangkan
Toh buktinya kita masih beriringan
Memandang langit yang pernah redup menerangkan
Aku masih punya kamu sayang
Kalaupun mereka tak yakin kita mampu bertahan
Yang penting saat ini kita masih beriringan

Terbangun

Aku kembali terbangun
Setelah tidurku yang meninggalkanmu
Lalu kamu membangunkanku di sepertiga malamnya
Ini bukan yang pertama
Ku harap takkan menjadi akhir jua
Karena ku ingin selamanya
Terbangun bersama di sepertiga malam kita
Dimana saat hari senin dan kamis kita berpuasa bersama
Menahan dahaga dan duka berdua
Sungguh ku ingin seperti ini selamanya
Melakukan sunnah bersama
Kelak saat kita tlah nyata
Ku harap aku yang lebh awal bangun sebelumnya
Menyiapkan segala sajian untk kau makan berpuasa
Lalu membangunkanmu penuh bahagia
Dan kita mulai tahajud bersama
Bertasbih berdua
Setelahnya barulah kita makan berdua
Duhai cinta
Ku harap ini semua kelak kan nyata
Bersatu dalam ikatan yang di ikat OlehNya

Sengaja

Aku sengaja tak memberikannya padamu
Tak memberikan puisi padamu
Tp kini sesekali ku tulis dalam blogku
Yang pasti satu
Aku juga ingin kau tersenyum
Saat kamu temukan dirimu di dalam aku
Aku ingin kamu selalu merasa
Bahwa ada dirimu dalam aku
Aku selalu ingin membuatmu nyata
Walau kita tak selalu saling bertatap mata
Jarak bukanlah apa-apa
Ia hanya sekedar pembatas
Membuktikan bahwa rindu itu ada
Menyatakan bahwa pertemuan adalah hal yang begitu berharga
Atas jarak yang nyata
Aku mulai sadar arti waktu kita bersama
Atas jarak yang ada
Aku mulai mengerti bahwa pemahaman perlu tuk saling bertoleransi
Atas jarak yang ada
Tak ada lagi raguku atas rasamu cinta
Walau jauh tak terpandang mata
Tp hatiku terpaut padamu sepenuhnya
Selamat senja
Walau matamu terlelap dalam maya
Aku disini mengenggammu bersama doa
Sambil menatap senja di ujung sana
Yang juga mengantarkan garis tawa penuh bangga
Bahwa aku kini tlah memilikimu cinta
Sosok yang sejak awal tlah memaut hatiku tuk tinggal disana
Pada hatimu yang ku sebut cinta

Kamu

Sosok yang manja memanjakanku
Tak hayal kadang membingungkan
Tp sikapmu sungguh ku rindukan
Banyak hal-hal yang mulai ku dapatkan
Tanpa sadar sebelum tidur ia selalu lakukan
Menelponku sebentar
Tak lama berselang ngantuk baginya datang
Betapa aku nyaman
Merasakan bahwa aku mampu menjadi penenang
Betapa impianku kini menjadi kenyataan
Sejak dirinya datang
Dan aku lambat laun mampu menjadi lebh santun beraturan
Aku selalu harap menjadi tempatnya pulang
Tanpa sadar ia lakukan yang ku impikan
Membuatku menjadi tempatnya berteduh dan mengeluh
Menceritahan segala resah dan pilu
Katanya aku menyejukkan
Tak jarang ia katakan bahwa aku juga menenangkan
Syukurku padaMu Tuhan
Atas sekian banyak nikmat yang Tlah Kau titipkan
Semoga aku selalu mengisi kehidupan
Dimana tiap kurangnya ku tutupi dengan penuh kasih sayang
Selamat tidur kesayangan
Senja melihatmu dari kejauhan
Dan tersenyum bangga karena akulah penyebab kau dapat tidur siang

Sabtu, 09 Mei 2015

Sayang.

Maaf. Aku merapelmu dalam satu waktu Sebetulnya sudh banyak puisi untukmu Tp rasanya dua buku belum lah cukup tuk utarakan rasaku. Ku harap,aku selalu memiliki banyak waktu. Tuk terus merajut kisahmu dan kisahku. Walau jarak tak pernah mendekatkan kau dan aku. Tp ku yakin hatimu selalu ada aku. Teruntuk kamu yang masih saja jauh. Ku harap kelak kita selalu menyatu. Berada dalam kota yang satu. Menikmati segala sukaku dan sukamu. Menjadi kita tak lagi hanya aku dan kanu. Kelak. Maafkan aku, pabila ragu menghampiri hatimu. Yang pasti satu. Lihat kembali kumpulan puisi-puisi dalam bukumu. Maka kau kan kembali rasakan. Segala getar dan debar yang selalu ku kirimkan.

Tangerang-Kudus

Ada jarak yang menghadang
Kala cinta minta disandingkan
Ku kira takkan mungkin bertahan
Tp nyatanya mampu juga berjalan
Walau kadang tertatih
Menahan rindu yang terkungkung dalam
Rindu sllu ingin disalurkan
Menatap mantap pasangan
Menyambut lembut sapaan
Belum ada satu bulan
Tp rindu tertumpuk tak dapat ditahan
Emosi bergejolak
Berseteru ingin menang
Menghadap temu tuk beriringan
Tp apalah daya aku ini sebagai insan
Yang terlihat kecil atas jarak yang terpajang
Andai kita dapat temukan
Segala harap dan impian
menjemput temu dan melepas kerinduan
Tp apalah daya insan
Yang hanya bisa berharap pada Tuhan
Tuk menghadiahi temu-temu yang berkelanjutan

Kamu

Kamu yang dulu terlihat cuek dan mengacuhkanku
Kamu yang seakan kuat tanpa ada keluh
Kamu yang menyongsong saat aku dulu sempat jatuh
Tp kini aku lebih mengenalmu
Pribadi yang jauh lebih lembut dariku
Perasaanmu tajam menyejukkanku
Terkadang membuatku malu
Karena aku mash saja tak tau diri menyakitimu
Membuatmu merinti pedih
Atas air mata yang menetes dan isakan yang merindukan
Sungguh. Maafkan aku sayang.
Atas cintaku yang masih memiliki kurang.
Tp sungguh
Aku bersyukur atas hadirmu sayang
Yang masih mau berdiri tegap berdampingan
Walau sering sikapku menyakitkan
Tp kamu terus mempertahankan
Bersama lembut dan kesabaran
Semoga kelak kita selalu berdampingan
Sampai halal ada dalam genggaman.

-SaidAbdulMuthalib

Kamis, 07 Mei 2015

SaidAbdulMuthalib

Aku mencintamu
Bersama sendunya rasamu
Aku mencintamu
Dalam rindu yang kita rajut berdua
Pada malam-malam sebelumnya
Kita bertengkar tanpa jeda
Aku mulai lelah menghadapinya
Namun akhirnya ketahuan juga
Bahwa rindu itu terlampau ingin nyata
Rindu ingin hadir dlm temu kita
Dan aku baru tersadar juga
Bahwa benar atas pertengkaran kita
Hadir hanya karena rindu yang tersumbat dalam dada
Maaf atas segala sikap yang ada
Yg akhirnya membuat kita saling lelah dan berunjar pasrah
Aku tetap bersyukur atas kita
Atas kamu yg selalu mempertahakan ini semua
Aku tetap bersyukur atas kita
Walau jarak begitu menyiksa
Namun kuat terasa di dalamnya
Terima kasih atas ini semua
Ku harap kelak kita kan nyata
Mengarungi hidup bersama
Dengan impian-impian kita