Jumat, 28 Agustus 2015

Semarang

Semarang
Salah satu kota yang ku impi-impikan
Dulu inginku tinggal disana
Walau merantau hanya tuk menimba ilmu saja
Tapi akhir tak bsa jua
Hanya jakartalah yang menjadi awal segalanya
Mengikuti prosesnya
Hingga menjadi anggota sebuah lembaga
Tanpa sadar aku temukan dia
Dalam wadah yang sama
Tak banyak bicara
Berbincang juga tidak
Hanya sesekali aku menatapnya.
Biasa.
Itu saja.
Perkenalan memang dijogja.
Hampir satu tahun yang lalu temu itu datang.
Lalu jogja menjadi saksi kehidupan
Bahwa perkenalan bsa mengubah pertemanan menjadi sebuah hubungan
Ku harap lebih dari sekedar teman dekat
Lebih dari sekedar teman bertengkar
Lebih dari teman seperjalanan
Lebih dari sekedar teman seperjuangan
Aku ingin lebih banyak menghabiskan kehidupan
Dengan sosoknya yang kini sedang dgnku berdampingan
Semarang
Menjadi kota ke 3 setelah jogja, dan jakarta
Membuat cintaku semakin tumbuh padanya
Satu malam ku lewati kebersamaan
Menghirup udara dingin semarang di malam hari
Hingga menerjang panas kota lama
Hingga tiba perpisahan yg nyata
Ia mengantarku ke tempat pemisah jarak
Stasiun poncol menjadi perjalanan
Dimana kami saling menunduk pilu
Tak tega kalau harus saling terpisah dan memendam rindu
Sok tegarku.
Meminta ia cepat pergi agar aku cepat masuk ke tempat itu
Tepat dikursi keretaku
Tetes-tetes rindu mulai menggerayangi wajarku
Dan semarang masih menjadi saksi bisu
Bagaimana ia merenggut dirimu agar kembali jauh dariku

Sabtu, 22 Agustus 2015

Entah mengapa

Entah mengapa
Tak pernah terlintas lagi dalam benakku
Untk pergi atau mencari pengganti kamu
Karena sejak kau ucap
"Kita saling mencocokkan bukan mencari kurang"
Saat itu aku mulai percaya
Bahwa benar katamu
Kita mencocokkan
Bukan mencari kurang
Karena manusia tak pernah terbebas dari kata puas
Besyukur aku punya kamu yang mengingatkan
Mengubahku fikiranku scara perlahan
Dan aku rasa aku tak ingin berpindah tangan
Karena hatimu tempatku berpulang yang paling nyaman
Maka ijinkan aku tuk selalu tinggal
Bersemayam dalam hatimu dengan tenang
Menikmati segala kurang yang kita ciptakan
Hingga mensyukuri segala tingkah yang kita lakukan
Denganmu aku tenang
Tanpamu mungkin aku kan hilang
Doaku tuk kita selalu beriringan
Ku harap Pencipta selalu mengijinkan.

Ia.

Ia selalu mengenggam jemariku
Dulu ia menarikku dari kubangangan kepedihan yang pilu
Kini ia menuntunku tuk terus berjalan maju
Bersamanya aku mulai belajar
Kita bukan lagi hidup untk menuntut
Melainkan tuk saling mengajarkan
Kita bukan lagi hidup untk mencari siapa yang benar
Melainkan tuk saling memperbaiki
Kita bukan lagi hidup untk mencari sempurna
Melainkan tuk saling melengkapi
Dengannya aku mulai belajar
Menjamah diriku
Memperhatikan egoku
Belum seluruhnya baik begitu
Tp aku sedang usahakan untk sebaik yang aku mau
Karena dengannya
Ia ijinkan aku tuk terus berproses
Berusaha  menjadi yang terbaik untk diriku saja
Bukan karenanya
Melainkan karena aku ingin baik untukku
Semoga Pencipta mengijinkan segala doa
Agar aku sllu dengannya

Jumat, 21 Agustus 2015

Yang aku takutkan

Yang aku takutkan adalah saat kamu  menyerah
Yang aku takutkan adalah saat kamu pergi
Yang aku takutkan adalah saat kamu bilang "silakan pergi"
Yang aku takutkan adalah tak adalagi mimpiku dan mimpimu
Yang ku takutkan adalah ketika misi kita tak lagi satu
Yang ku takutkan adalah ketika kamu tak lagi menganggap kita
Yang sungguh aku takutkan adalah pabila kamu tak lagi denganku
Lantas aku? Harus seperti apa melanjutkan mimpiku?
Kamu pendukung dalam nyata dan mimpiku
Dimana harap ingin aku wujudkan denganmu
Dimana impian ingin aku persembahkan atas dukunganmu
Lantas, pabila kau pergi dan menjauh?
Mampukah aku terus berjalan menggiring diriku
Memaksa diri tuk terus berlari mengejar mimpiku
Rasanya tak mampu
Karena aku butuh kamu.

Tuhan. Ijinkan aku.

Tuhan. Kali ini saja.
Ijinkan aku untk tidak menyakiti seseorang
Sosok yang sudh banyak berkorban
Tuhan. Kali ini saja.
Ijinkan aku untk tidak lg membuat hati seseorang kecewa apalagi terluka
Tuhan. Kali ini saja.
Ijinkan aku tuk selalu mendampinginya
Mengiringi jalannya
Mendukung segala pilihannya.
Tuhan. Kali ini saja.
Ijinkan aku tuk selalu dengannya
Mengenggam jemarinya
Mendukungnya
Tanpa harus aku menjatuhkan atau membuatnya kecewa
Tuhan. Kali ini dan seterusnya.
Aku mohon perbaiki segala sifat yang ada pada aku.
Kurangi amarahku
Kurangi egoisku
Lindungi aku dlm balutan lemah lembutMu
Jadikan aku sosok peneduh bagi pria yang kini ada disisiku.
Kali ini saja. Dan untk selamanya.
Aku mohon.
Ijinkan aku mendampinginya.
Hingga kami menua dan salah satu di antaranya pulabg terlebih dahulu.

Rabu, 12 Agustus 2015

Takkan lagi

Takkan lagi aku memintamu
Takkan lagi aku mencoba mengingatkanmu
Mengingatkan tentang kisah yang manis itu
Atau sekedar memintamu menengok impianmu atau impianku
Takkan lagi aku merengek yang merepotkanmu
Takkan lagi ku usik apalagi ku ganggu
Takkan lagi aku biarkan kamu merasa lelah atas jalanmu denganmu
Karena sebentar lagi semua tlah berakhir
Takkan ada lagi lelahmu
Takkan adalagi bebanmu
Takkan adalagi aku
Takkan adalagi pengecoh harimu
Takkan adalagi...
Bebaslah kamu dengan dirimu....

Batuku

Ada hal-hal yang menurutmu sepele
Tp tidak menurutku
Ada hal-hal yang menurutku sepele
Tp tidak menurutmu
Ada hati-hati yang bergelimang pilu
Ada raut wajah sendu
Ada goresan dalam kataku
Andai aku bisa perbaiki waktu
Takkan sekalipun ke sentuh hatimu
Agar tak ada lagi beban dibahumu
Agar tak ada lagi sosok manja yang hanya mengerecokimu
Ku harap kelak ada yang ikhlas
Ikhlas hari-harinya terganggu
Ikhlas telinganya mendengar ocehanmu
Ikhlas hatinya mengalah untukku
Andaipun bukan kamu
Mungkin ada hati yang kelak lebih bisa memanjakanmu
Lebih bisa menghargai usahamu
Lebih bisa menerima apapun kurangmu
Dan mungkin itu bukan aku.

12agustus

Senin, 03 Agustus 2015

Terkadang

Terkadang cemburu datang
Kesal berdesir
Kala keinginan tak sejalan
Kadang ku rasa jarak adalah penghalang
Dimana aku tak dapat merengkuhnya dengan tenang
Ditempatnya atau ditempatku
Kita bisa sama
Sama-sama sabar menunggu
Atau sama-sama iseng berkumpul dgn segerombol yang baru
Tp aku yakin.
Bahwa ia bisa ku percaya
Tp rasanya cemburu itu masih ada
Saat kau telah menunggunya
Tp ternyata disana ia sedang tak ditempatnya
Lalu kau harus apa?
Ingin meluapkan emosi
Tp untk apa?
Tak ada guna.
Berfikirlah dewasa
Tp cemburuku ini nyata
Ah entahlah.
Biasanya aku tak cemburu
Malah mengijinkan-mengijinkan saja
Tp saat rumah yg lain lebih akrab dgn yang kau cinta
Apakah bisa kau diam tanpa cemburu dalam dada?