Selasa, 09 Agustus 2016

aku membenci

aku membenci diriku, saat aku mulai bergantung padamu.
dan aku membenci diriku,saat aku mulai menerima apapun yang kau paksa aku menerima itu.
aku membenci diriku, saat aku mulai nyaman dengan kebiasaan yang kau hadirkan untukku.
saat bergantungku hadir, saat kebutuhanku mencarimu.
dan kamu, coba kembalikan aku menjadi aku yang dulu.
menjadi aku yang tak bergantung padamu.
aku membenci diriku, yang kini bergantung dan harus belajar kembali menjadi aku.
aku membenci diriku, yang harus lagi belajar menjadi aku yang dulu.
yang tak bergantung padamu,

Aku lupa

Aku lupa firman orang keberapa yang ku tanyai oleh kalimat yang sama "kalau nanti kita ga sama-sama gimana?" Jawabnya hanya "setelah selesai s1ku. Aku bsa cari kerja yg lain dan kamu tetep ditelkom" // tp keluarga kamu jga mau kamu ditelkom// tp Allah tau yg terbaik buat aku de. Ade mau s2. Kemungkinan beasiswa kan ada. Kalau ditempat lain kecil kan. Kita lihat rejeki ya sayang.

dan, kembali lagi

dan kembali lagi,
hati terpanting kesana kesini.
atas keluargaku yang berharap aku menjadi karyawan tetap itu.
dan keluargamu yang juga mendoakan hal yang sama begitu.
atas syukurannya sore ini
atas doa keluargamu yang menginginkan kita tetap baik sampai pernikahan nanti
antara syukur dan ragu
atas aku yang juga tak mau melepaskan kesempatan karyawan tetap itu
apalagi melewatkan kesempatan beasiswa yang lebih mungkin ku dapat bila menjadi kartap
sedangkan keluargamu juga menginginkan kau menjadi karyawan tetap
rasanya, aku sama sekali tak ingin mengorbankan mimpiku
membiarkan pernikahan menutup jalan menuju impianku itu
atas universitas tujuanku
yang akan sangat sulit ku realisasikan bila denganmu
atas karyawan tetap yang sama-sama keluarga kita inginkan itu
haruskah satu diantara kita mundur karena alasan itu?
atau memaksa terus bersama, dan salah satu yang mengalah dengan mengorbankan impiannya.
dan pastinya aku bukan orang yang mau menyerah
dengan membiarkan mimpiku hilang begitu saja.